Informasi Harga 9 Bahan
Pokok di wilayah NTT [
LIHAT ]
-----------------------------------
.
.
BANNER MITRA
TABLOID TOURISM, EXBIS,
EDUCATION
.
.
FOTO
.
New Page 1
Berikut ini adalah
alat-alat musik dan bunyi-bunyian yang berasal dari daerah Nusa
Tenggara Timur, alat-alat musik ini memiliki ciri khas khusus dan
bunyi yang sangat menarik
Alat
Musik Tiup
FOY DOA
Kabupaten Ngada
Flores yang beribukota Bajawa mempunyai banyak ragam kesenian daerah.
antara lain musik Foy Doa.
Seberapa lama usia musik Foy Doa tidaklah diketahui dengan pasti
karena tidak ada peninggalan- peninggalan yang dapat dipakai untuk
mengukurnya. Foy Doa berarti suling berganda yang terbuat dari buluh/bamabu
keil yang bergandeng dua atau lebih.
Mungkin musik ini biasanya digunakan oleh para muda-mudi dalam
permainan rakyat di malam hari dengan membentuk lingkaran.
Sistem penalaan, Nada-nada yang diproduksi oleh musik Foy Doa adalah
nada-nada tunggal dan nada-nada ganda atau dua suara, hak ini
tergantung selera si pemain musik Foy Doa.
Bentuk syair, umumnya syair-syair dari nyanyian musik Foy Doa
bertemakan kehidupan , sebagai contoh : Kami bhodha ngo kami bhodha
ngongo ngangi rupu-rupu, go-tuka ate wi me menge, yang artinya kami
harus rajin bekerja agar jangan kelaparan.
Cara Memainkan, Hembuskan angin dari mulut secara lembut ke lubang
peniup, sementara itu jari-jari tangan kanan dan kiri menutup lubang
suara.
Perkembangan Musik Foy Doa, Awal mulanya musik Foy Doa dimainkan seara
sendiri, dan baru sekitar 1958 musisi di daerah setempat mulai
memadukan dengan alat-alat musik lainya seperti : Sowito, Thobo, Foy
Pai, Laba Dera, dan Laba Toka. Fungsi dari alat-alat musik tersebut di
atas adalah sebagai pengiring musik Foy Doa.
FOY PAY
Alat musik tiup dari
bambu ini dahulunya berfungsi untuk mengiringi lagu-lagu tandak
seperti halnya musik Foy Doa.
Dalam perkembangannya waditra ini selalu berpasangan dengan musik Foy
Doa. Nada-nada yang diproduksi oleh Foy Pai : do, re, mi, fa, sol.
KNOBE KHABETAS
Masyarakat Dawan
peraya bahwa alat musik Knobe Kbetas telah ada sejak nenek moyang
mereka berumah di gua-gua. Bentuk alat musik ini sama dengan busur
panah. Cara memainkannya ialah, salah satu bagian ujung busur
ditempelkan di antara bibir atas dan bibir bawah, dan kemudian udara
dikeluarkan dari kerongkongan, sementara tali busur dipetik dengan
jari. Meripakan kebiasaaan masyarakat dawan di pedesaan apabila pergi
berook tanam atau mengembala hewan mereka selalu membawa alat-alat
musik seperti Leku, Heo, Knobe Kbetas, Knobe Oh, dan Feku. Sambil
mengawasi kebun atau mengawasi hewan-hewan, maka musik digunakan untuk
melepas kesepian. Selain digunakan untuk hiburan pribadi, alat musik
ini digunakan juga untuk upacara adat seperti, Napoitan Li'ana (anak
umur 40), yaitu bayi yang baru dilahirkan tidak diperkenankan untuk
keluar rumah sebelum 40 hari. Untuk menyonsong bayi tersebut keluar
rumah setelah berumur 40 hari, maka diadakan pesta adat (Napoitan
Li'ana).
KNOBE OH
Nama alat musik yang
terbuat dari kilit bambu dengan ukuran panjang lebih kurang 12,5 cm.
ditengah-tengahnya sebagian dikerat menjadi belahan bambu yang
memanjang (semacam lidah) sedemikian halusnya, sehingga dapat
berfungsi sebagai vibrator (penggetar). Apabila pangkal ujungnya
ditarik dengan untaian tali yang terkait erat pada pangkalujung
terseut maka timbul bunyi melalui proses rongga mulut yang berfungsi
sebagai resonator.
NUREN
Alat musik ini
terdapat di Solor Barat. Orang Talibura di Sikka Timur menyebut alat
musik ini dengan nama Sason, apabula disebut seara puitis menjadi
Sason Nuren. Secara etimologi Sason berarti jantan, dan Nuren berarti
perempuan. Sason Nuren merupakan dua buha suling yang dimainkan oleh
seorang sendirian, merupakan sebutan keramat, sakral, kesayangan, alat
hiburan. Menurut cerita tua, seorang tokoh legendaris Solor Barat
konon berkepala dua sekaligus memiliki rmulut dua. Orang Solor Barat
menyebutnya dengan nama Edoreo sedangkan di bagian tengah Solor Barat
menyebutnya dengan nama Labaama Kaha. Konon menurut erita ia pernah
hidup 3-4 abad yang lalu. Konon menurut erita pula ia mampu meminkan
Sason Nuren sekaligus, sehingga apabila sedang maminkan lat musik ini
orang mengira ada dua pribadi yang sedang memainkan Sason Nuren.
Menurut keperayaan penduduk setempat Sason Nuren merupakan suara para
peri (nitun).
SUNDING
TONGKENG
Nama alat musik tiup
ini berhubungan dengan bentuk serta ara memainkannya, yaitu seruas
bambu atau buluh yang panjangnya kira-kira 30 cm. Buku salah satu
ujung jari dari ruas bambu dibiarkan. Lubang suara berjumlah 6 buah
dan bmbu berbuku. Sebagian lubang peniutp dililitkan searik daun tala.
Cara memainkan alat musik ini seperti memainkan flute. Karena posisi
meniup yang tegak itu orang Manggarai menyebutnya Tongkeng, sedangkan
sunding adalah suling., sehingga alat musik ini disebut dengan nama
Sunding Tongkeng. Alat musik ini bisanya digunakan pada waktu malam
hari sewaktu menjaga babi hutan di kebun. Memainkan alat musik ini
tidak ada pantsngan, keuali lagu memanggil roh halus yaitu Ratu Dita
PRERE
Alat bunyi-bunyian
dari Manggarai ini terbuat dari seruas bambu keil sekeil pensil yang
panjangnya kira-kira 15 cm. Buku ruas bagian bawah dibiarkan tertutup,
tetapi bagian atasnya dipotong untuk tempat meniup. Buku ruaw bagian
bawah dibelah untuk menyaluirkan udara tiupan mulut dari tabung bambu
bagian atas, sekaligus bagian belahan bambu itu untuk melilit daun
pandan sehingga menyerupai orong terompet yang berfungsi memperbesar
suaranya. Alat musik ini selain digunakan untuk hiburan pribadi, juga
digunakan untuk mengiringi musik gong gendang pada permainan penak
silat rakyat setempat. Nada-nada yang dihasilkan adalah do dan re,
sehingga nama alat ini disebut Prere.
SULING
Umumnya seluruh
kabupaten yang ada di NTT memiliki instrumen suling bambu, seperti di
Sumba terdapat suling hidung. Namanya demikian karena suling ini
ditiup dari hidung. Kalau di Kabupaten Belu terdapat orkes suling
dengan jumlah pemain ( 40 orang. Orkes suling ini terdiri dari suling
pembawa melodi (suling keil), dan suling pengiring yang berbentuk
silinder yaitu, suling alto, tenor, dan bass. Suling pengiring ini
terdiri dari 2 bambu yang berbentuk silinder yaitu, bambu peniup
berukuran keil dan bambu pengatur nada berbentuk besar.
Suling melodi bernada 1 oktaf lebih, suling pengiring bernada 2 oktaf.
Dengan demikian untuk meniptakan harmoni atau akord, maka suling alto
bernada mi, tenor bernada sol, dan bass bernada do, atau suling alto
bernada sol, tenor mi,dan dan bass bernada do.
Cara memainkan : suling sopran atau pembawa melodi seperti memainkan
suling pada umumnya, dan suling pengiring sementar bambu peniup
dibunyikan, maka bambu pengatur nada digerakkan turun dan naik, yaitu
sesuai dengan nada yang dipilih. Keualui pada sulign bass, bambu
peniup yang digerakkan turun dan naik.
Fungsi alat musik suling ini untuk menyambut tamu atau untuk
memeriahkan hari-hari nasional.
Alat
Musik Petik
GAMBUS
Alat musik
diperkirakan masuk ke Flores Timur sejak masuknya agama Islam sekitar
abad 15. Alat musik ini terbuat dari kayu, kulit hewan, senar, dan
paku halus. Alat musik petik ini merupakan instrumen berdawai ganda
yaitu, setiap nada berdawai dua/double snar. Dawai pertama bernada do,
dawai kedua bernada sol. Dan dawai ketiga bernada re, atau dawai
pertama bernada sol, dawai kedua bernada re, dan dawai ketiga bernada
la. Fungsi alat musik ini untuk mengiringi lagu-lagu padang pasir.
HEO
Alat gesek (heo)
terbuat dari kayu dan penggeseknya terbuat dari ekor kuda yang
dirangkai menjadi satu ikatan yang diikat pada kayu penggesek yang
berbentuk seperti busur (dalam istilah masyarakat Dawan ini terbuat
dari usus kuskus yang telah dikeringkan). Alat ini mempunyai 4 dawai,
dan masing-masing bernama :
- dawai 1 (paling bawah) Tain Mone, artinya tali laki-laki
- dawai 2 Tain Ana, artinya tali ana
- dawai 3 Tain Feto, artinya tali perempuan
- dawai 4 Tain Enf, artinya tali induk
Tali 1 bernada sol, tali 2 bernada re, tali tiga bernada la dan tali 4
bernada do.
LEKO BOKO/ BIJOL
Alat musik petik ini
terbuat dari labu hutan (wadah resonansi), kayu (bagian untuk
merentangkn dawai), dan usus kuskus sebagai dawainya. Jumlah dawai
sama dengan Heo yaitu 4, serta nama dawainya pun seperti yang ada pada
Heo. Fungsi Leko dalam masyarakat Dawan untuk hiburan pribadi dan juga
untuk pesta adat. Alat musik ini selalu berpasangan dengan heo dalam
suatu pertunjukan, sehingga dimana ada heo, disitu ada Leko. Dalam
penggabungan ini Lelo berperan sebagai pembei harmoni, sedangkan Heo
berperan sebagi pembawa melodi atau kadang-kadang sebagai pengisi
(Filter) Nyanyian-nyayian pada msyarkat Dawan umumnya berupa
improvisasi dengan menuturkan tentang kejadian-kejadi an tang telah
terjadi pda masa lampau maupun kejadian yang sedang terjadi (aktual).Dalam
nyanyian ini sering disisipi dengan Koa (semaam musik rap). Koa ada
dua macam yaitu, Koa bersyair dan Koa tak bersyair.
SOWITO
Alat musik pukul
dari bambu dari Kabupaten Ngada. Seruas bambu yang dicungkil kulitnya
berukuran 2 cm yang kemudian diganjal dengan batangan kayu kecil.
Cungkilan kulit bambu ini berfungsi sebagai dawai. Cara memainkan
dipukul dengan sebatang kayu sebesar jari tangan yang panjangnya
kurang dari 30 cm. Sertiap ruas bambu menghasilkn satu nada. Untuk
keperluan penggiringan, alat musik ini dibuat beberapa buah sesuai
kebutuhan.
REBA
Alat musik ini
berdawai tunggal ini, terbuat dari tempurung kelapa/labu hutan sebagai
wadah resonansi yang ditutupi dengan kulit kambing yang ditengahnya
telah dilubangi. Dawainya terbuat dari benang tenun asli yang telah
digosok dengan lilin lebah. Penggeseknya terbuat dari sebilah bambu
yang telah diikat dengan benang tenun yang juga telah digosok dengan
lilin lebah.
Dalam pengembangannya alat ini dari jenis gesek menjadi alat musik
petik, yang juga berdawai satu dimodifikasikan menjadi 12 dawai, serta
dawainya pun diganti dengan senar plastik. Reba tiruan ini berfungsi
untuk mengiringi lagu-lagu daerah populer.
MENDUT
Alat musik petik/pukul
dari bambu ini berasal dari Manggarai. Seruas bambu betung yang 1,5
tahun yang panjangnya kira-kira 40 m. Kedua ujung bambu dibiarkan,
namun salah satunya dilubangi.
Cara pembuatannya, di tengah bambu dilubangi persegi empat dengan
ukuran 5 x 4 m. Disamping kiri kanan lubang masing-masing dicungkil
satu kulit bambu yang kemudian diganjal dengn batangan kayu hingga
berfungsi sebagai dawai.
Cara memainkan alat musik ini adalah dengan dipetik atau dipukul-pukul
dengan kayu kecil.
KETADU MARA
Alat musik petik dua
dawai yang biasa digunakan untuk menghibur diri dan juga sebagai
sarana menggoda hati wanita. Alat musik ini dipercayai pula dapat
mengajak cecak bernyanyi dan juga suaranya disenangi makluk halus.
SASANDO
Sasando Listrik
Fungsi musik sasando
gong dalam masyarakat pemiliknya sebagi alat musik pengiring tari,
menghibur keluarga yang sedang berduka, menghibur keluarga yang sedang
mengadakan pesta, dan sebagai hiburan pribadi. Sasando gong yang
pentatonis ini mempunyai banyak ragam cara memainkannya, antara lain :
Teo renda, Ofalangga, Feto boi, Batu matia, Basili, Lendo Ndao, Hela,
Kaka musu, Tai Benu, Ronggeng, Dae muris, Te'o tonak.
Ragam-ragam tersebut sudah merupakan ragam yang baku, namun dengan
sedikit perbedaan ini dikarenakan :
(a). Rote terdiri dalam 18 Nusak adat dan terbagi dalam 6 keamatan.
Dengan sendirinya setiap nusak mempunyai gaya permainan yang
berbeda-beda. (b). Perbedaan-perbendaan ini dipengaruhi oleh kemampuan
musikalis dari masing-masing pemain sasando gong. (c). Belum adanya
sistem notasi musik sasando gong yang baku.
Perkembangan Sansando
Sasando pada mulanya menggunakan tangga nada pentatonis. Diperkirakan
akhir abad ke-18 sansando mengalami perkembangan sesuai tuntutn zaman,
yaitu menggunakan tangga nada diatonis. Sasando diatonis khusunya
berkembang di Kabupaten Kupang.
Jumlah dawai yang digunakan oleh sasando diatonis bervariasi yaitu, 24
dawai, 28 dawai, 30 dawai, 32 dawai, dan 34 dawai. Kemudian dalam
perkembangan selanjutnya yaitu kira-kira 1960 untuk pertam kalinya
sasando menggunakan listrik. Ide ini datang dari seorang yang bernama
Bapak edu Pah, yaitu salah seorang pakar pemain sasando di Nusa
Tenggara Timur.
Alat
Musik Bunyi-bunyian
KERONTANG
Pada jaman lampau
wilayah pulau komodo masih berhutan, karena itu masih banyak binatang
buas perusak tanaman seperti Kera. Untuk mengusir binatang pengganggu
tanaman, terciptalah alat musik ini. Alat musik bunyi-bunyian ini
terbuat dari tiga belahan kayu bulat kering yang panjangnya 30 cm.
Ketiga belahan kayu ini diletakkan di atas kaki pemain yang sedang
duduk dan kemudian dipikul dengan batangan kayu sebesar jari tengah.
TATABUANG
Di Tanalein alat
musik ini disebut Leto, di Desa Lamanole Flores Timur disebut
Tatabuang. Rupanya mirip dengan nama Totobuang alat musik dari Maluku.
Kemungkinan besar alat musik ini dibawa oleh suku Kera (Keraf) dari
Maluku. Sebutan Tatabuang hanya terdapat di Lemonale, dan di desa ini
banyak terdapat orang suku Kera yang menyebut dalam sejarah pelayaran
menggunakan perahu kora-kora. Terdapat sebuah erita bahwa asal muasal
alat musik ini dari seorang anak yang selalu mau mengikuti orang
tuanya ke kebun. Setiap hari sang anak selalu menangis, dan ini sangat
mengganggu kepergian mereka kek kebun. Untuk mengatasinya sang ayah
membuat alat musik ini untuk sang anak.
Di Lemonale permainan Tatabuang melalui dua cara, yaitu digantung
seperti Leto dan yang lain diletakkan di atas pangkuan.
Tatabuang dibuat dari batangan kayu Sukun yang digantung berbentuk
bulat dan hati dari kayu tersebut dikeluarkan. Tatabuang yang
digantung bernama Letor di Sikka dan yang dipangku bernama Preson di
Wulanggintang.
THOBO
Alat musik tumbuk
dari bambu ini berasal Kabupaten Ngada. Seruas Bambu betung yang buku
bagian bawahnya dibiarkan, sedangkan bagian atasnya dilubangi. Ara
memainkannya ditumbuk ke lantai atau tanah (seperti menumbuk padi).
Alat musik ini berfungsi sebagai bass dalam mengiringi musik Foy doa.
GONG
Gong merupakan alat
musik yang umum terdapat pada masyarakat Nusa Tenggara Timur yang
terbuat dari tembaga, kuningan, atau dari besi. Biasanya digunakan
untuk berbagai tujuan, misalnya untuk pesta adat, mengiringi tarian
dalam penerimaan tamu dan sebagainya.
Perbedaan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain antara lain
jumlah gong , ukurannya, cara memainkannya, serta penglarasnya. Khusus
penglaras umunya berkisar pada laras pelog dan slendro.
Nama-nama gong pada
masing-masing daerah tidak sama, untuk jelas lihat ontoh berikut :
a. Gong Sumba Barat
Kelompok pertama
yang terdiri dari 4 buah gong kecil (katala meduk) dengan urutan
pemukulan sebagai berikut :
Mamaalu/gong pertama yaitu gong yang ditabuh/dibunyikan paling pertama,
Pahimangu/gong kedua yaitu gong yang dibunyikan setelah mamaulu
berbunyi, Pahelungu/gong ketiga yaitu gong yang dibunyikan dengan
kecepatan dua kali lebih epat dari gong yang terdahulu, Kabokang/gong
keempat yaitu gong yang dibunyikn sama epatnya dengan gong ketiga dan
saling mengisi sehingga terdengar bunyi yang harmonis.
Kelompok kedua yang terdiri dari dua gong besar, yang dalam bahasa
Anakalang disebut Katalla bakul, namun ada juga menyebut dengan nama
Gasa. Katalla Bakul atau Gasa dibunyikan seara berganti-ganti untuk
mengimbangi keempat gong di atas (kelompok pertama).
b. Gong Sabu
Nama-nama gong sesuai dengan cara menabuhnya, ontoh gong pengiring
tari Ledo Hawu :
Leko yaitu dua buah gong yang mula-mula ditabuh seara bergantian,
Didale ae, Didala Iki, dan Gaha yaitu tiga buah gong yang berukuran
agak besar (gong bass) yang juga ditabuh secara bergantian, Wo Peibho
Abho yaitu dua buah gong yang ditabuh sebagai pengiring gong Leko, Wo
Paheli yaitu dua buah gong yang ditabuh sebagai pengiring Leko dan We
Peibho Abho.
c. Gong Alor
Nama-nama gong :
- Kingkang yaitu dua buah gong kecil.
- Dung-dung/kong-kong yaitu dua buah gong sedang.
- Posa yaitu tiga buah gong besar.
d. Gong Ngada
Gong Ngada terdiri dari lima buah dan umumnya berukuran kecil. Nama-nama
gong :
- Doa yaitu dua buah gong yang dimainkan seara silih berganti.
- Dhere yaitu terdiri dari satu gong
- Uto-uto yang juga hanya satu gong
- Wela yaitu gong yang paling tingi suaranya.
e. Gong Dawan
Gong Dawan yang dimaksudkan di sini adalah dari Amanuban tepatnya di
Desa Nusa Timor Tengah Selatan. Gong yang digunakan umumnya berjumlah
6 buah. Nama-nama gong :
Tetun yaitu dua buah gong keil, namun apabila dari kedua gong ini
hanya dibunyikan salah satunya maka namnya berubah menjadi Toluk, Ote'
yaitu dua buah gong sedang. Kedua gong ini dibunyikan dengan penuh
perasaan, Kbolo' yaitu dua buah gong besar yang dimainkan dengan tidak
terlalu cepat.