 |
Alor merupakan
kabupaten yang terletak paling timur dalam gugusan kepulauan di
wilayah NTT wilayah utara. Berbatasan dengan Propinsi Maluku, laut
Sawu, laut Flores dan selat Ombai sebelah baratnya, Kabupaten ini
memiliki beberapa pulau kecil, pulau pantar, Baranusa, Kambing, Buaya,
Tereweng.
Luas kabupaten Alor 2864,6 km2 Keadaan alam pulau Alor agak berbeda
dengan gugusan pulau Flores di Adonara dan Lembata yang subur dengan
gunung berapi. Kecuali sebagian kecil wilayah sebur Alor Timur.
Pulau Alor telah lama dikenal melalui tulisan Pigafetta dalam
pelayaran Magelhaens mengelilingi dunia. Setelah mengumpul
rempah-rempah di Maluku, kapal Victoria berlayar kembali ke Eropah
dengan menyinggahi Alor pada 12 Januari 1522. Ketika itu sebagian
besar penduduk pantai telah menganut agama Islam karena kontak dengan
Sultan Ternate.
Masyarakat Alor pada mulanya dibentuk berdasarkan pada himpunan
keluarga inti/bathi yang terdiri dari bapak, ibu, anak, yang secara
tradisional memilih tempat tinggal berpisah-pisah tetapi dalam satu
klen besar di lembah yang dalam, atau di puncak gunung atau
dilereng-lereng bukit.
Himpunan ini akhirnya membentuk Bala atau satu klen kecil yang
merupakan perluasan dari keluarga inti. Beberapa Bala membentuk klen
yang lebih besar berdasarkan keturunan ayah dalam satu rumah adat.
Sulit memisahkan peran moko dan belis dalam kehidupan masyarakat Alor
terutama dalam perkawinan. Fungsi social moko di Alor sama dengan
gading di Flores, terutama Flores Timur. Moko Alor tergolong dalam
Nekara type Pejeng (Gianyar/Bali). Bentuk dasarnya lonjong seperti
gendang, ada yang berbentuk gendang besar. Pola hiasnya beragam
tergantung tahun pembuatannya, yang kebanyakan sekarang di Alor adalah
mirip dengan yang ada pada zaman Majapahit. Adapula jenis ragam hias
moko yang merupakan hasil produksi pada zaman Hindia Belanda, Hindu,
Indonesia sebelum merdeka.
|