Informasi Harga 9 Bahan
Pokok di wilayah NTT [
LIHAT ]
-----------------------------------
.
.
BANNER MITRA
TABLOID TOURISM, EXBIS,
EDUCATION
.
.
FOTO
.
New Page 1
BUDAYA
FLORES TIMUR
Flotim
merupakan wilayah kepulauan dengan luas 3079,23 km2, berbatasan dengan
kabupaten Alor di timur, kabupaten Sikka di barat utara dengan laut
Flores dan selatan, laut Sawu.
Orang yang berasal dari Flores Timur sering disebut orang Lamaholot,
karena bahasa yang digunakan bahasa suku Lamaholot.
Konsep rumah adat orang Flotim selalu dianggap sebagai pusat kegiatan
ritual suku. Rumah adat dijadikan tempat untuk menghormati Lera Wulan
Tana Ekan (wujud tertinggi yang mengciptakan dan yang empunya bumi).
Pelapisan social masyarakat tergantung pada awal mula kedatangan
penduduk pertama, karena itu dikenal adanya tuan tanah yang memutuskan
segala sesuatu, membagi tanah kepada suku Mehen yang tiba kemudian,
disusul suku Ketawo yang memperoleh hak tinggal dan mengolah tanah
dari suku Mehen.
Suku Mehen mempertahankan eksistensinya yang dinilainya sebagai tuan
tanah, jadilah mereka pendekar-pendekar perang, yang dibantu suku
Ketawo.
Mata pencaharian orang Flotim/Lamaholot yang utama terlihat dalam
ungkapan sebagai berikut:
Bekerja di ladang, Mengiris tuak, berkerang (mencari siput dilaut),
berkarya di gunung, melayani/memberi hidup keluarga (istri dan
anak-anak) mengabdi kepada pertiwi/tanah air, menerima tamu asing.
BUDAYA SIKKA
Sikka
berbatasan sebelah utara dengan laut Flores, sebelah selatan dengan
Laut Sabu, dan sebelah timur dengan kabupaten Flores Timur, bagian
barat dengan kabupaten Ende. Luas wilayah kabupaten Sikka 1731,9 km2.
Ibu kota Sikka ialah Maumere yang terletak menghadap ke pantai utara,
laut Flores. Konon nama Sikka berasal dari nama suatu tempat dikawasan
Indocina. Sikka dan dari sinilah kemungkinan bermula orang berimigrasi
kewilayah nusantara menuju ke timur dan menetap disebuah desa pantai
selatan yakni Sikka. Nama ini Kemudian menjadi pemukiman pertama
penduduk asli Sikka di kecamatan Lela sekarang. Turunan ini bakal
menjadi tuan tanah di wilayah ini.
Pelapisan sosial dari masyarakat Sikka. Lapisan atas disebut sebagai
Ine Gete Ama Gahar yang terdiri para raja dan bangsawan. Tanda umum
pelapisan itu di zaman dahulu ialah memiliki warisan pemerintahan
tradisional kemasyarakatan, di samping pemilikan harta warisa keluarga
maupun nenek moyangnya. Lapisan kedua ialah Ata Rinung dengan ciri
pelapisan melaksanakan fungsi bantuan terhadap para bangsawan dan
melanjutkan semua amanat terhadap masyarakat biasa/orang kebanyakan
umumnya yang dikenal sebagai lapisan ketiga yakni Mepu atau Maha.
Secara umum masyarakat kabupaten Sikka terinci atas beberapa nama
suku; (1) ata Sikka, (2) ata Krowe, (3) ata Tana ai, desamping itu
dikenal juga suku-suku pendatang yaitu: (4) ata Goan, (5) ata Lua, (6)
ata Lio, (7) ata Ende, (8) ata Sina, (9) ata Sabu/Rote, (10) ata Bura.
Mata pencaharian masyarakat Sikka umumnya pertanian. Adapun kelender
pertanian sbb: Bulan Wulan Waran - More Duru (Okt-Nov) yaitu bulan
untuk membersihkan kebun, menanam, menyusul di bulan Bleke Gete-Bleke
Doi - Kowo (Januari, Pebuari, Maret) masa untuk menyiangi kebun (padi
dan jagung) serta memetik, dalam bulan Balu Goit - Balu Epan - Blepo
(April s/d Juni) masa untuk memetik dan menanam palawija
/kacang-kacangan. Sedangkan pada akhir kelender kerja pertanian yaitu
bulan Pupun Porun Blebe Oin Ali-Ilin (Agustus - September).
BUDAYA
ENDE
Batas-batas
wilayahnya yang membentang dari pantai utara ke selatan itu adalah
dibagian timur dengan kabupaten Sikka, bagian barat dengan kabupaten
Ngada, utara dengan laut Flores, selatan dengan laut Sabu. Luas
kabupaten Ende 2046,6 km2, iklim daerah ini pada umumnya tropis dengan
curah hujan rata-rata 6096 mm/tahun dengan rata rata jumlah hari hujan
terbanyak pada bulan November s/d Januari.
Daerah yang paling terbanyak mendapat hujan adalah wilayah tengah
seperti kawasan gunung Kalimutu, Detusoko, Welamosa yang berkisar
antara 1700 mm s/d 4000 mm/tahun.
Nama Ende sendiri konon ada yang menyebutkannya sebagai Endeh, Nusa
Ende, atau dalam literatur kuno menyebut Inde atau Ynde. Ada dugaan
yang kuat bahwa nama itu mungkin sekali diberikan sekitar abad ke 14
pada waktu orang-orang maleyu memperdagangkan tenunan besar nan mahal
yakni Tjindai sejenis sarung patola dalam pelayaran perdagangan mereka
ke Ende.
Ende/Lio sering disebut dalam satu kesatuan nama yang tidak dapat
dipisahkan. Meskipun demikian sikap ego dalam menyebutkan diri sendiri
seperti : Jao Ata Ende atau Aku ata Lio dapat menunjukan sebenarnya
ada batas-batas yang jelas antara ciri khas kedua sebutan itu.
Meskipun secara administrasi masyarakat yang disebut Ende/Lio bermukim
dalam batas yang jelas seperti tersebut di atas tetapi dalam kenyataan
wilayah kebudayaan (tereitorial kultur) nampaknya lebih luas Lio dari
pada Ende.
Pola pemukiman masyarakat baik di Ende maupun Lio umumnya pada mula
dari keluarga batih/inti baba (bapak), ine (mama) dan ana (anak-anak)
kemudian diperluas sesudah menikah maka anak laki-laki tetap bermukim
di rumah induk ataupun sekitar rumah induk. Rumah sendiri umumnya
secara tradisional terbuat dari bambu beratap daun rumbia maupun
alang-alang.
Lapisan bangsawan masyarakat Lio disebut Mosalaki ria bewa, lapisan
bansawan menengah disebut Mosalaki puu dan Tuke sani untuk masyarakat
biasa. Sedangkan masyarakat Ende bangsawan disebut Ata NggaE, turunan
raja Ata Nggae Mere, lapisan menegah disebut Ata Hoo dan budak dati
Ata Hoo disebut Hoo Tai Manu.
BUDAYA
NGADA
Ngada merupakan
kabupaten yang terletak diantara kabupaten Ende (di timur) dan
Manggarai (di barat). Bajawa ibu kotanya terletak di atas bukit
kira-kira 1000 meter di atas permukaan laut. Masyarakat ini dikenal
empat kesatuan adat (kelompok etnis) yang memiliki pelbagai
tanda-tanda kesatuan yang berbeda.
Kesatuan adat tersebut adalah : (1) Nagekeo, (2) Ngada, (3) Riung, (4)
Soa. Masing-masing kesatuan adat mempertahankan ciri kekrabatannya
dengan mendukung semacam tanda kesatuan mereka.
Arti keluarga kekrabatan dalam masyarakat Ngada umumnya selain
terdekat dalam bentuk keluarga inti Sao maka keluarga yang lebih luas
satu simbol dalam pemersatu
(satu Peo, satu Ngadhu, dan Bagha). Ikatan nama membawa hak-hak dan
kewajiban tertentu. Contoh setiap anggota kekrabatan dari kesatuan
adat istiadat harus taat kepada kepala suku, terutama atas tanah.
Setiap masyarakat pendukung mempunyai sebuah rumah pokok (rumah adat)
dengan seorang yang mengepalai bagian pangkal Ngadhu ulu Sao Saka puu.
Rumah tradisional disebut juga Sao, bahan rumah terbuat seperti di
Ende/Lio (dinding atap, dan lantai /panggungnya). Secara tradisional
rumah adat ditandai dengan Weti (ukiran). Ukiran terdiri dari
tingkatan-tingkatan misalnya Keka, Sao Keka, Sao Lipi Wisu, Sao Dawu
Ngongo, Sao Weti Sagere, Sao Rika Rapo, Sao Lia Roda.
Pelapisan sosial teratas disebut Ata Gae, lapisan menengah disebut Gae
Kisa, dan pelapisan terbawah disebut Ata Hoo. Sumber lain menyebutkan
pelapisan sosial biasa dibagi atas tiga, Gae (bangsawan), Gae Kisa =
kuju, dan golongan rendah (budak). Ada pula yang membagi atas empat
strata, Gae (bangsawan pertama), Pati (bangsawan kedua) Baja
(bangsawan ketiga), dan Bheku (bangsawan keempat).
Para istri dari setiap pelapisan terutama pelapisan atas dan menengah
disebut saja Inegae/Finegae dengan tugas utama menjadi kepala rumah
yang memutuskan segala sesuatu di rumah mulai pemasukan dan
pengeluaran.
Masyarakat Nagekeo pendukung kebudayaan Paruwitu (kebudayaan berburu),
masyarakat Soa pendukung Reba (kebudayaan tahun baru, pesta panen),
Pendukung kebudayaan bertani dalam arti yang lebih luas ialah
Ngadhu/Peo, terjadi pada sebagian kesatuan adat Nagekeo, Riung, Soa
dan Ngada.
BUDAYA
MANGGARAI
Manggarai terletak
di ujung barat pulau Flores, berbatasan sebelah timur dengan kabupaten
Ngada, barat dengan Sealat sapepulau Sumbawa/kabupaten Bima, utara
dengan laut Flores dan selatan dengan laut Sabu.
Luas wilayah 7136,14 km2, wilayah ini dapat dikatakan paling subur di
NTT. Areal pertanian amat luas dan subur, perkebunan kopi yang
membentang disebahagian wilayahnya, curah hujan yang tinggi yaitu
dalam setahun mencapai 27,574 mm, sepertiga dari jumlah itu (lebih
dari 7000mm) turun pada bulan Januari.
Ibu kota Manggarai terletak kira-kira 1200 meter di atas permukaan
laut, di bawa kaki gunung Pocoranaka
Pembentukan keluarga batih terdiri dari bapak, mama dan anak-anak yang
disebut Cak Kilo. Perluasan Cak Kilo membentuk klen kecil Kilo,
kemudian klen sedang Panga dan klen besar Wau.
Beberapa istilah yang dikenal dalam sistim kekrabatan antara lain Wae
Tua (turunan dari kakak), Wae Koe (turunan dari adik), Ana Rona
(turunan keluarga mama), Ana Wina (turunan keluarga saudara
perempuan), Amang (saudara lelaki mama), Inang (saudara perempuan
bapak), Ema Koe (adik dari bapak), Ema Tua (kakak dari bapak), Ende
Koe (adik dari mama), Ende Tua (kakak dari mama), Ema (bapak), Ende
(mama), Kae (kakak), Ase (adik), Nana (saudara lelaki), dan Enu
(saudara wanita atau istri).
Strata masyarakat Manggarai terdiri atas 3 golongan, kelas pertama
disebut Kraeng (Raja/bangsawan), kelas kedua Gelarang ( kelas
menengah), dan golongan ketiga Lengge (rakyat jelata).
Raja mempunyai kekuasaan yang absolut, upeti yang tidak dapat dibayar
oleh rakyat diharuskan bekerja rodi. Kaum Gelarang bertugas memungut
upeti dari Lengge (rakyat jelata). Kaum Gelarang ini merupakan penjaga
tanah raja dan sebagai kaum penyambung lidah antara golongan Kraeng
dengan Lengge. Status Lengge adalah status yang selalu terancam.
Kelompok ini harus selalu bayar pajak, pekerja rodi, dan
berkemungkinan besar menjadi hamba sahaya yang sewaktu-waktu dapat
dibawah ke Bima dan sangat kecil sekali dapat kembali melihat tempat
kelahirannya.