Informasi Harga 9 Bahan
Pokok di wilayah NTT [
LIHAT ]
-----------------------------------
.
.
BANNER MITRA
TABLOID TOURISM, EXBIS,
EDUCATION
.
.
FOTO
.
New Page 1
BUDAYA SUMBA TIMUR
Sumba Timur
batas wilayah disebelah barat dengan kabupaten Sumba Barat,
sebelah utara, selatan dan timur dikelilingi laut Sabu. Luas
wilayah 7000,5 km2. Alam Sumba Timur terdiri dari bukit-bukit
dengan ciri padang savana yang membentang jauh ke timur samapi
ke selatan, kecuali daerah sekitar Lewa lebih kurang 60 km dari
ibu kota Waingapu kearah barat merupakan gudang beras dari
kabupaten ini. Menurut catatan A.N.T.J. Van der Hoop yang
dikutip B. Soelarto mengatakan bahwa orang-orang Sumba
sebenarnya datang dari Indocina yang sudah membentuk suatu ras
baru yaitu Melayu muda yang bakal berlayar menuju ke muara
sungai Kambaniru dan mendirikan sebuah kampung tradisional
ditempat ini dan kelak disebut Kampung Lambanapu.
Pada tahun 1522 sebuah kapal kuat dan bagus milik Magalhaens,
'Victoria' berlayar mengelilingi dunia dibawah pimpinan Juan
Sebastian de Elcano. Diatas kapal itu juga ada seorang calon
perwira bernama Antonio Pigafetta. Padea tanggal 14 Pebuari 1522
kapal itu berlayar dekat pulau Sabu ke arah barat sebelah
selatan Pulau Sumba. Dalam pelayaran itu Pigafetta mungkin
mendengar dari seorang penunjuk jalan masuk keluar pelabuhan
atau selat 'Cendana' dan 'Melolo' kemudian ia mengira bahwa itu
dua nama dari pulau. Kelak Pigafetta dalam petanya menggambarkan
dua pulau itu 'Cendana' dan 'Batalo' (yang tak lain kampung
Malolo sekarang).Sekitar 40 tahun kemudian pulau itu digambar
oleh seorang juru gambar peta bumi, Jacobo Gastaldi. Pada tahun
1561 ia menerbitkan peta bumi, dan pulau itu diberi nama 'Subao'
Kemudia tahun 1593 Cornelius de Judaeis menerbitkan peta dan
'Pulau Merapu disebutnya 'Suban' bahkan ada lagi yang menyebut
'Siombo'. Sementara anak negeri sendiri menyebutnya tana
'Sumba'.
Pola pengelompokan masyarakat pada umumnya dimulai dari keluarga
batih/inti, biliku yang isinya bapak, ubu, dan anak, yang
kemudian membentuk uma dan gabungan dari beberapa uma membentuk
kabisu atau klen besar.
Kabihu berarti sudut, ini menunjukan bahwa pemukiman kabihu di
sudut punggung bukit, berbentuk segi empat memanjang dan kedua
ujung kampungnya menyempit berbentuk perahu. Setiap kabihu
mempunyai nenek moyang, dan tanah kabihu sendiri yang diwariskan
dari nenek - kakek mereka, kabihu juga kadang-kadang terhoimpun
kedalam beberapa kabihu misalnya:
(1) Kabihu Angupaluku/kabihu bersaudara
(2) Kabihu Yer/kabihu pemberi wanita
(3) Kabihu anak kawin / kabihu penerima wanita
Beberapa Kabihu kelak membentuk kotaku/dusun dan akhirnya
membentuk sebuah kampung yang disebut Praingu. Umumnya dikenal
empat Kabihu penting dalam setiap Desa induk yang selalu disebut
dalam seloka secara berpasangan yaitu:
(1) Lewa : Motolangu - Parai Majangga
(2) Kambera : Mbujika - Parai Karaba, Kabiku - Anamburu
(3) Tabundung : Hau - Harikundu, Kawatangu - Dukuwatu
(4) Mangili : Maru - Watumbulu, Matolangu - Wanggirara.
Marapu agama asli masyarakat Sumba dalam kegiatan ekonominya
bersandar pada sector pertanian, peternakan, dan juga industri
rumah tangga berupa kerajinan tenun ikat. Kerajinan ini terdapat
dibeberapa tempat yang terkenal dengan tenun ikatnya yaitu, desa
Kaliuda (kec. Pahungalodu), Rindi dan Watuhadang (kec.
Rindiumalulu), Rambangaru (kec. Pandawai) dan Kelurahan Prailiu.
Tenunannya bermutu tinggi karena dibuat dengan menggunakan
ramuan tradisional yang telah diwarisi dari nenek moyangnya
sejak dahulu kala.
BUDAYA SUMBA BARAT
Sumba Barat
merupakan salah satu kabupaten dari dua kabupaten yang ada di
pulau Sumba berbatasan bagian utara dengan Laut Sabu, Selatan
dan Barat dengan Lautan Indonesia dan sebelah Timur dengan
Kabupaten Sumba Timur.
Luas wilayah kabupaten Sumba Barat 4051,92 km2. Dalam banyak hal
wujud kebudayaan masyarakat Sumba Barat ada kesamaan dengan
kabupaten Sumba Timur, yang terutama adalah pranata religiusnya
yakni Merapu sebagai suatu 'Agama Asli' orang Sumba pada
umumnya.
Kehidupan paling purba di Sumba khususnya Sumba Barat ditemukan
dalam Li'i
Merapu, ialah hikayat suci tentang asal-usul nenek moyang.
Biasanya digelar secara khusus diwaktu malam dikisahkan oleh
seorang penyanyi dan seorang penderas, secara berganti-ganti,
sahut-menyahut diselingi bunyi gong dan genderang. Dalam suasana
khidmat dan dengan hati terharu penduduk kampung mendengarkan
sejarah kuno yang diceriterakan dengan meriah. Singkat ceritera
di pantai Utara disanalah nenek moyang kita menjajakan kakinya,
pantai itu Sasar namanya. Tanjung Sasar itu dahulu ada 'Lende
Watu' Jembatab Batu yang menyambung pulau Sumba dan Bima, bahkan
ada yang menceriterakan jembatan batu tersebut membentang jauh
sampai ke pantai Manggarai.
Penduduk Sumba Barat secara tradisional adalah bertani (bersawa)
dan berladang dengan padi yang suci (pare) sebagai tenaman pokok
yang dihormati. Terdapat beberapa rangkaian upacara dalam mata
pencaharian masyarakat Sumba Barat antara lain upacara upacara :
(1) Upacara mengasah parang ( urata patama keto) agar parang
/pisau
dan lain-lain dapat berfungsi pada waktu hendak memotong
hewan besar, bekerja kebun.
(2) Urata Pogo wasu (menebang pohon)
(3) Urata Tenu ( membakar kayu)
(4) Urata Wuke Oma (membuka kebun) rangkaian upacara ini sebagai
pemohon belas
kasih pada dewa untuk meminta kesucian untuk perang, tanah
agar menghasilkan
dan hujan yang banyak.
(5) Urata Dengu Ura (memohon hujan) semua acara di atas dipimpin
oleh Rato dengan
mengambil ayam yang darahnya dipercik baik ke parang,
pohon, maupun tanah.
(6) Urata Dengi Ina ( upacara memetik hasil)