JavaScript DHTML menu is only visible when JavaScript is enabled
headingntt.jpg
SmartMenus 6 Example - Black Style

 

 Admin :

.

 

AGENDA HARIAN

 

 

TRANSPORTASI


Informasi Penerbangan dan transportasi Laut

 [ Klik Disini ]
-----------------------------------

.

HARGA PASAR


Informasi Harga 9 Bahan Pokok di wilayah NTT

[ LIHAT ]

-----------------------------------

 

.

.

BANNER MITRA



 

TABLOID

TOURISM, EXBIS, EDUCATION
 


 

.

 

 

 




 

.

FOTO

.

New Page 1




Peta Cagar Alam Watuata


Kawasan Cagar Alam Watu Ata di dalamnya meliputi 11 wilayah Kelurahan/Desa yang berada pada 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Bajawa, Kecamatan Bajawa Utara dan Kecamatan Aimere dengan luasan masing-masing Desa/Kelurahan dan luasan yang masuk dalam kawasan Cagar Alam Watu Ata sebagai berikut:
 

No

Desa/
Kelurahan

Kecamatan

Luas Desa (Ha)

Jumlah penduduk (jiwa)

Masuk dalam kawasan CA (Ha)

Prosentase

1

Jawameze

Bajawa

58,1

1105

4,4

7,5

2

Bajawa

Bajawa

751,2

2590

258,4

34,39

3

Bomari

Bajawa

1413,3

2712

233,6

16,53

4

Susu

Bajawa

570,1

2735

27,3

4,79

5

Naru

Bajawa

738,8

1609

147,9

20,02

6

Inelika

Bajawa Utara

4955,7

1476

1019,1

20,56

7

Keligejo

Aimere

10074,4

1421

1980,9

19,66

8

Aimere

Aimere

2288,5

2519

409,4

17,89

9

Waewea

Bajawa Utara

3544,9

267

2,5

0,07

10

Wawowae

Bajawa

853,3

1918

418,5

49,04

11

Beiwali

Bajawa

412,1

1454

396,8

96,27

JUMLAH

25660,4

19806

4898,80

19,07

Semakin besar jumlah penduduk yang bertempat tinggal pada lokasi-lokasi yang berbatasan langsung atau pada zona penyangga (buffer zone) dengan kawasan Cagar Alam Watu Ata, maka diindikasikan adanya kecenderungan terjadinya pembukaan/pengolahan lahan yang berada dalam kawasan Cagar Alam untuk budi daya tanaman perkebunan maupun untuk ladang pertanian.



BENTUK LAHAN

Kawasan Cagar Alam Watu Ata yang berada pada ketinggian lebih dari 1000 mdpal, terbentuk pada daerah vulkan tua dengan fenomena alam seperti kenampakan bentang lahan (landscape) dan bentuk lahan (landform) akibat proses geomorfologi yang telah terjadi seperti: erupsi, erosi, gerakan massa menunjukkan bahwa dominasi lahan seluas 3346,5 Ha atau 68,38 % merupakan bentuk lahan lereng vulkan sangat tertoreh yang memberikan gambaran kepada kita bahwa betapa berat medan/topografi karena separoh lebih kawasan Cagar Alam Watu Ata memiliki jurang terjal dan tebing curam. Luasan masing-masing bentuk lahan dapat dilihat pada table berikut ini:

 

No

Bentuk Lahan

Luas (Ha)

Prosentase

1

Aliran lava sub resen sangat tertoreh

549,91

11,24

2

Aliran lava resen cukup tertoreh

30,38

0,62

3

Kerucut anakan agak tertoreh

0,11

0,001

4

Lereng vulkan bawah agak tertoreh

395,98

8,09

5

Lereng vulkan sangat tertoreh

3351,64

68,42

6

Lereng vulkan atas sangat tertoreh

412,79

8,44

7

Lereng vulkan bawah cukup tertoreh

155,19

3,17

8

Lereng vulkan tengah cukup tertoreh

2,80

0,06

 Jumlah

4898,80

100,00

 

KELAS KELERENGAN

Kemiringan lereng sebagai salah satu criteria untuk menetapkan kawsan cagar alam Watu Ata menunjukkan bahwa kondisi lapangan didominasi lahan-lahan dengan kemiringan 10 % sampai 45 % yang mencakup ± 78,11 % dari luasan kawasan Cagar Alam Watu Ata. Lahan dengan kemiringan lebih dari 45 % seluas 35,64 ha (0,73 %) merupakan lahan sangat curam dan resisten terjadinya erosi, longsor lahan dan longsor batuan, sedangkan lahan dengan kemiringan 0 % sampai 10 % seluas 1035,18 Ha (21,18%) merupakan dalam kawasan cagar alam yang berpotensi berkecenderungan dikembangkannya lahan pertanian dan perkebunan. Adapun luasan masing-masing kelas lereng yang berada dalam kawasan cagar Alam Watu Ata dapat dilihat pada tabel berikut ini:

 

No

Kelas Lereng (%)

Luas

Prosentase

1

0 – 5

201,69

4,13

2

5 – 10

833,49

17,05

3

10 – 15

1205,28

24,66

4

15 – 25

1532,32

31,30

5

25 – 45

1090,26

22,31

6

> 45

35,64

0,73

Jumlah

4898,80

100

 

TOPOGRAFI

Kondisi topografi bergunung seluas 3759,29 Ha atau seluas 76,82 % merupakan pemandangan yang paling sering kita jumpai dalam kawasan cagar Alam Watu Ata sebagai akibat proses geologi yang melatarbelakangi terbentuknya kawasan Cagar Alam Watu Ata, sedangkan pemandangan lainnya berupa perbukitan yang berombak dan bergelombang.

Adapun luasan masing-masing topografi dapat dilihat pada table berikut:

No

Topografi

Luas

Prosentase

1

Berbukit

583,20

11,92

2

Berbukit kecil

155,19

3,17

3

Bergelombang

204,94

4,19

4

Bergunung

3764,43

76,84

5

Berombak

191,04

3,90

Jumlah

4898,80

100,00

 

PENGGUNAAN LAHAN

Penggunaan lahan merupakan penutupan lahan oleh vegetasi baik yang bersifat alami maupun yang telah diusahakan oleh manusia dan dapat mencerminkan pola pengolahan lahan yang terjadi dalam kawasan Cagar Alam Watu Ata, seperti tertera dalam table di bawah ini yang menggambarkan bahwa hutan yang ada dalam Cagar Alam Watu Ata sebesar 1169,58 Ha atau 23,90 %, sedangkan semak belukar merupakan panggunaan lahan cukup dominant yaitu 30,98 %. Ladang dan Perkebunan sebagai wujud penggunaan lahan hasil campur tangan manusia masing-masing seluas 815,85 Ha dan 606,11 Ha memperlihatkan telah terjadi pengolahan lahan kawasan cagar Alam Watu Ata untuk kegiatan budidaya oleh masyarakat. Data selengkapnya dapat dilihat pada table berikut ini:

 

No

Penggunaan lahan

Luas

Prosentase

1

Padang rumput

784,80

16,03

2

Ladang

815,85

16,67

3

Perkebunan

606,11

12,38

4

Hutan

1169,58

23,90

5

Semak Belukar

1517,63

30,98

6

Permukiman

4,83

0,10

Jumlah

4898,80

100,00



EROSI

Kenampakan-kenampakan erosi alam yang disebabkan oleh aliran air permukaan sebesar 60,69 % didominasi oleh sheet dan rill erosion yang menggambarkan bahwa tingkat erosi dalam Kawasan cagar Alam Watu Ata dapat digolongkan rendah, sedangkan valley erosion yang dilapangan ditunjukkan dengan kenampakan parit-parit dengan kedalaman sampai 1 meter menempati daerah seluas 1327,05 Ha atau 27,12 % dengan kategori erosi sedang. Selengkapnya jenis-jenis erosi dan luasannya dapat dilihat pada table berikut:

 

No

Jenis Erosi

Luas

Prosentase

1

Sheet erosion/rill erosion

2973,11

60,69

2

Gully erosion

229,45

4,69

3

Valley erosion

1327,05

27,12

4

Tidak ada data

369,19

7,54

Jumlah

4898,80 

100,00

 

GERAKAN MASSA

Gerakan massa seperti rayapan/creep merupakan gerakan massa tanah secara perlahan-lahan yang dapat diindikasikan dengan batang pohon-pohon yang membengkok akibat mengikuti gerakan yang selalu mencari sinar matahari merupakan kenampakan yang dominan dijumpai dengan luasan mencapai 3025,72 Ha atau 61,76 % kemudian disusul dengan longsor lahan/landslide akibat struktur tanah dan batuan serta kemiringan lereng seluas 989,56 ha atau 20,22 %. Data selengkapnya dapat dilihat pada table berikut:

 

No

Gerakan Massa

Luas

Prosentase

1

Creep/rayapan

3025,72

61,76

2

Landslide/longsor lahan

989,56

20,22

3

Rockslide/longsor batuan

0,00

0,00

4

Rockfall/jatuhan batu

5,19

0,11

5

Tidak ada data

878,33

17,95

Jumlah

4898,80

100,00





PENGADUAN

 

.

PUBLIKASI


KOLOM OPINI

MENURUT ANDA APA HARAPAN DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN YANG PERLU DILAKSANAKAN OLEH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR YANG BARU

[Baca] [Tulis]

.

PERDA - PERDA














 

UMKM NTT

New Page 1

 


 

.

 

 



KANTOR PENGOLAHAN DATA ELEKTRONIK (KPDE)
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Jl. Raya El Tari No. 52 Kupang, Telp. (0380) 824843, (0380) 832567, Faks. (0380) 830814
Copyright © 2005 All rights reserved
 All comment about this site please send mail to e-mail
@2005
www.nttprov.go.id
support by nusacendanabiz.com