|

Museum Bikon Blewut Ledalero

Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur ternyata aslinya bernama Pulau Ular.
Dalam bahasa Lio, Nusa Nipa. Nama Flores ternyata pemberian orang Portugal
ketika pertama kali datang ratusan tahun silam. Toh dari pulau yang sayup
dari Jakarta ini, keindonesiaan sempat dibina.
Makna sejarah Pulau Flores itu dituangkan dalam bentuk lukisan berjudul
“Nusa Nipa” pada sebuah tripleks. Lukisan itu masih terpampang sebagai
bagian dari jenis koleksi di Museum Bikon Blewut di Kabupaten Sikka, Flores,
Nusa Tenggara Timur (NTT).
Lukisan karya Frater Goris Leki (1993) itu berwarna dasar biru muda.
Bentuknya berupa gambar pulau yang dililit seekor ular mengusung sejumlah
perhiasan emas, lalu diterangi cahaya matahari.

Almarhum Pater Piet Petu SVD yang meminta Frater Leki untuk melukisnya pada
saat itu. Maksudnya agar secuil sejarah Pulau Flores dapat dengan mudah
diketahui dan diingat terutama oleh generasi muda.
“Di daratan Flores, kalau orang Manggarai menyebut pulau ini dengan Nuca
Nepa Lale (Pulau Ular yang Indah). Sementara orang Ngada dan Ende menyebut
Nusa Nipa. Tapi, orang Larantuka (Kabupaten Flores Timur) menyebut dengan
Nuha Ula Bungan (Pulau Ular yang Suci). Semua sebutan ini turut dituangkan
dalam lukisan agar orang lebih mudah memahami dan mengingatnya,” ungkap Staf
Harian Museum Bikon Blewut, Endy Paji (43). Warga Desa Nita, Kecamatan Nita,
Sikka, ini secara lancar dapat menjelaskan tiap jenis koleksi kepada para
pengunjung tanpa harus membaca teks atau dokumen museum.

Adapun nama Pulau Nusa Nipa yang artinya Pulau Ular diberikan karena
beberapa alasan. Yang pertama, di Pulau ini banyak dijumpai ular. Kedua,
nenek moyang pulau ini mempunyai keyakinan, jika seseorang bertemu ular atau
didatangi ular, maka ia akan memperoleh rezeki.
Pertimbangan lainnya karena ular dianggap sebagai dewa atau titisan arwah
leluhur oleh marga tertentu. Oleh karena itu, sampai sekarang masih dipegang
kepercayaan jika ular memasuki rumah atau berhenti di ladang, maka oleh tuan
rumah atau pemilik ladang tak akan diusir, dilukai, atau dibunuh.
Sebaliknya, ular itu akan dibentangkan sarung serta dihidangkan makanan
berupa telur dan beras mentah.
Jenis koleksi unik lainnya di museum ini adalah lukisan pahlawan revolusi
Jenderal Achmad Yani yang meninggal akibat Gerakan PKI tanggal 30 September
1965. Lukisan itu selesai dibuat detik-detik menjelang kematian Achmad Yani.
Lukisan bergambar Sang Jenderal dengan baju kedinasan hijau itu merupakan
karya almarhum Frater Bosco Beding pada tanggal 30 September 1965. Bosco
Beding membuat lukisan itu lewat foto Achmad Yani. Sementara gambar Achmad
Yani diambil ketika dia memberikan ceramah di Seminari Tinggi St Paulus
Ledalero tanggal 25 September 1965. Lukisan itu sendiri selesai dibuat
tanggal 30 September malam. Namun, tak lama setelah itu, tanggal 1 Oktober
dini hari, diberitakan lewat RRI bahwa jenderal itu telah dibunuh pada
peristiwa 1965.

Ada pula jenis koleksi kuno yang lain berupa fosil fauna, yaitu fosil
Stegodon, sejenis gajah raksasa yang ditemukan di Ola Bula, Kabupaten Ngada,
Flores, pada bulan Desember 1956 oleh Tim Ekspedisi Verhoeven.
Fosil ini dinamakan Stegodon Trigonocephalus Florensis karena ditemukan di
Flores. Diperkirakan hewan ini telah hidup di Flores pada periode 400.000
tahun—10.000 tahun Sebelum Masehi (SM). Selain di Ola Bula, fosil juga
ditemukan di Mengeruda, Matamenge, dan Boaleza di Ngada. Lokasi penemuan itu
dari satu titik ke titik yang lain diperkirakan seluas 10 kilometer.
Namun amat disayangkan, potongan atau pecahan fosil gajah raksasa ini
seluruhnya tak dapat disaksikan umum. Karena keterbatasan ruang, potongan
fosil gajah itu terpaksa sebagian besar ditaruh berjejalan di dalam peti
atau kotak penyimpanan. Puluhan ribu jenis koleksi museum ini sampai
sekarang hanya disimpan dalam satu ruangan berukuran sekitar 99 meter
persegi.
Fosil manusia raksasa
Pada 11 Juli 1998, Tim Ekspedisi Museum Ledalero yang dipimpin Piet Petu SVD
dan Ansel Doredae SVD menemukan fosil tengkorak manusia raksasa (a mythical
gigantic skeleton) di Lia Natanio, Ngada, yang terletak 12 kilometer dari
lokasi penemuan fosil Stegodon di Ola Bula. Fosil itu kini sedang dipelajari
atas dasar hipotesis bahwa besar kemungkinan fosil tengkorak tersebut
mempunyai kaitan historis dengan fosil gajah Stegodon.
Theodor Verhoeven SVD pada 1954 juga menemukan fosil manusia purba penghuni
goa di Liang Toge, bagian utara Kabupaten Manggarai yang berbatasan dengan
Riung, Ngada. Fosil yang ditemukan jenis manusia kerdil. Usia diperkirakan
di atas 40 tahun dengan tinggi badan cuma 146 sentimeter. Usia fosil itu
diperkirakan 300.000 tahun SM.
Penemuan ini dinilai penting bagi ilmu pengetahuan internasional karena
merupakan satu-satunya fosil manusia terlengkap di dunia. Profesor Huizinga
dari Universitas Utrecht Belanda dan Prof Koeningswald menyimpulkan bahwa
fosil ini berasal dari jenis manusia ras Negrito yang pernah berdiam di
Flores. Akan tetapi, karena jenisnya lebih tua, maka disebut Proto Negrito.
Artinya manusia yang lebih tua dari Negrito.

Karena ditemukan di Flores, fosil itu kemudian disebut Proto Ngerito
Florensis. Namun, fosil manusia Proto Negrito Florensis masih tersimpan di
Universitas Utrecht. Dengan demikian, diduga kuat Flores telah dihuni
manusia sejak 300.000 tahun SM.
Keunikan lainnya, di museum ini juga tersimpan alat-alat kebudayaan Dongson,
berbahan perunggu. Peninggalan itu sebagiannya diperoleh dengan cara ganti
rugi dan sebagian melalui penelitian. Alat perunggu yang paling istimewa
adalah keris perunggu. Keris ini merupakan satu-satunya yang pernah
ditemukan di Indonesia. Keris ini ditemukan tahun 1952 oleh Pater
Mommersteeg SVD di daerah Naru, Ngada. Keris itu adalah milik suku Naru,
yang tak lagi digunakan sebagai senjata, melainkan untuk upacara keagamaan.
Koleksi langka lainnya, temuan tahun 1954, berupa tiga buah kapak perunggu
di Kampung Guru Lama oleh Pater Darius Nggawa SVD dan Pater Frans Nurak SVD.
Sayang, kapak yang pernah dimiliki museum itu diketahui telah dijual
arkeolog Verhoeven ke Museum Bassel, Swiss.
Nama museum Bikon Blewut diturunkan dari syair adat penciptaan semesta alam
atau buana, versi Krowe-Sikka yang berbunyi Saing Gun Saing Nulun/ Saing
Bikon Saing Blewut/ Saing Watu Wu’an Nurak/ Saing Tana Puhun Kleruk/ De’ot
Reta Wulan Wutu/ Kela Bekong Nian Tana Lero Wulan. Maknanya, sejak zaman
purbakala, ketika bumi masih rapuh, ketika batu masih merupakan buah muda,
ketika tanah masih seperti kuntum yang baru muncul, Tuhan di angkasa
mencipta bumi, matahari, dan bulan.
Dengan demikian, konsep nama Bikon Blewut menunjukkan kepurbaan atau ketuaan
dari beberapa jenis koleksi yang dikumpulkan dalam museum ini. Pencetus nama
Bikon Blewut adalah Pater Piet Petu SVD, kurator museum periode 1983-1998.
Saat ini kuratornya dipegang Pater Ansel Doredae SVD. Oleh Seminari Tinggi
St Paulus Ledalero, lembaga ini disebut juga sebagai Museum Misi dan Budaya
karena mayoritas jenis koleksi yang dilestarikan merupakan hasil karya
etnografis para misionaris SVD.
Keberadaan Museum Bikon Blewut yang menyimpan sejumlah kekayaan budaya
Flores ini tak lepas dari peran para misionaris SVD pada awal abad ke-19.
Umumnya imam SVD merupakan ahli di bidang sejarah, bahasa, serta kebudayaan
(etnolog dan antropolog). Misionaris SVD yang turut mengambil bagian dalam
penemuan dan pengumpulan kekayaan budaya Flores antara lain Paul Arndt SVD,
Theodor Verhoeven SVD, Guisinde SVD, Jilis Verheijen SVD, dan Paul Schebesta
SVD.
Sepintas orang mungkin tak menyangka bahwa di lembaga pendidikan tinggi ini
terdapat museum yang kaya akan jenis koleksi dengan nilai sejarah tinggi.
Belum lagi letak museum yang jauh di bagian timur, serta tak ada petunjuk
yang dipasang di tempat-tempat strategis mengenai keberadaan museum.
“Sebenarnya banyak sekali jenis koleksi yang masih disimpan. Namun sayang,
karena kekurangan tempat, tak semua jenis dapat dipamerkan. Seperti fosil
gajah yang diperkirakan usianya sudah ribuan tahun hanya sebagian yang
dipamerkan,” ungkap Bapak satu anak ini.
Dengan mencermati sekian banyak jenis koleksi yang khususnya merupakan
kekayaan kebudayaan Flores, museum ini niscaya merupakan aset nasional yang
amat berharga, terutama tentang pluralitas kita.
Lukisan Jenderal Achmad Yani yang sederhana tadi, salah satu bukti saja,
bahasa sejarah nasional dan keindonesiaan kita ternyata ikut diolah dan
dibina dari museum ini
Lokasi Museum
Seminari Tinggi St. Paulus, Ledalero
Telp. : (0382) 21893 Faks. : (0382) 21892
Transportasi
Jarak tempuh dari :
- Bandara ke Museum : 12 Km
- Pelabuhan ke Museum : 11 Meter
- Terminal ke Museum : 10 Km
Koleksi
Koleksi Museum Bikon Blewut
berupa : Benda-benda Budaya Masa Pre-Historis (Neolithicum), Benda-benda
Porselin dan Mata Uang Zaman V.O.C, Alat-alat Musik dan Tarian Tradisional
Flores dan NTT, Hasil-hasil Seni Tenun-Ikat (Flores-Sumba-Timor),
Benda-benda Hasil Kerajinan Budaya, Benda-benda Koleksi Budaya Masyarakat di
luar NTT, Benda-benda Budaya-Inkulturatif (Misi)

|