JavaScript DHTML menu is only visible when JavaScript is enabled
headingntt.jpg
SmartMenus 6 Example - Black Style

 

 Admin :

.

 

AGENDA HARIAN

 

 

TRANSPORTASI


Informasi Penerbangan dan transportasi Laut

 [ Klik Disini ]
-----------------------------------

.

HARGA PASAR


Informasi Harga 9 Bahan Pokok di wilayah NTT

[ LIHAT ]

-----------------------------------

 

.

.

BANNER MITRA



 

TABLOID

TOURISM, EXBIS, EDUCATION
 


 

.

 

 

 




 

.

FOTO

.

New Page 1


Museum Bikon Blewut Ledalero


Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur ternyata aslinya bernama Pulau Ular. Dalam bahasa Lio, Nusa Nipa. Nama Flores ternyata pemberian orang Portugal ketika pertama kali datang ratusan tahun silam. Toh dari pulau yang sayup dari Jakarta ini, keindonesiaan sempat dibina.

Makna sejarah Pulau Flores itu dituangkan dalam bentuk lukisan berjudul “Nusa Nipa” pada sebuah tripleks. Lukisan itu masih terpampang sebagai bagian dari jenis koleksi di Museum Bikon Blewut di Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lukisan karya Frater Goris Leki (1993) itu berwarna dasar biru muda. Bentuknya berupa gambar pulau yang dililit seekor ular mengusung sejumlah perhiasan emas, lalu diterangi cahaya matahari.
 


Almarhum Pater Piet Petu SVD yang meminta Frater Leki untuk melukisnya pada saat itu. Maksudnya agar secuil sejarah Pulau Flores dapat dengan mudah diketahui dan diingat terutama oleh generasi muda.

“Di daratan Flores, kalau orang Manggarai menyebut pulau ini dengan Nuca Nepa Lale (Pulau Ular yang Indah). Sementara orang Ngada dan Ende menyebut Nusa Nipa. Tapi, orang Larantuka (Kabupaten Flores Timur) menyebut dengan Nuha Ula Bungan (Pulau Ular yang Suci). Semua sebutan ini turut dituangkan dalam lukisan agar orang lebih mudah memahami dan mengingatnya,” ungkap Staf Harian Museum Bikon Blewut, Endy Paji (43). Warga Desa Nita, Kecamatan Nita, Sikka, ini secara lancar dapat menjelaskan tiap jenis koleksi kepada para pengunjung tanpa harus membaca teks atau dokumen museum.




Adapun nama Pulau Nusa Nipa yang artinya Pulau Ular diberikan karena beberapa alasan. Yang pertama, di Pulau ini banyak dijumpai ular. Kedua, nenek moyang pulau ini mempunyai keyakinan, jika seseorang bertemu ular atau didatangi ular, maka ia akan memperoleh rezeki.

Pertimbangan lainnya karena ular dianggap sebagai dewa atau titisan arwah leluhur oleh marga tertentu. Oleh karena itu, sampai sekarang masih dipegang kepercayaan jika ular memasuki rumah atau berhenti di ladang, maka oleh tuan rumah atau pemilik ladang tak akan diusir, dilukai, atau dibunuh. Sebaliknya, ular itu akan dibentangkan sarung serta dihidangkan makanan berupa telur dan beras mentah.

Jenis koleksi unik lainnya di museum ini adalah lukisan pahlawan revolusi Jenderal Achmad Yani yang meninggal akibat Gerakan PKI tanggal 30 September 1965. Lukisan itu selesai dibuat detik-detik menjelang kematian Achmad Yani. Lukisan bergambar Sang Jenderal dengan baju kedinasan hijau itu merupakan karya almarhum Frater Bosco Beding pada tanggal 30 September 1965. Bosco Beding membuat lukisan itu lewat foto Achmad Yani. Sementara gambar Achmad Yani diambil ketika dia memberikan ceramah di Seminari Tinggi St Paulus Ledalero tanggal 25 September 1965. Lukisan itu sendiri selesai dibuat tanggal 30 September malam. Namun, tak lama setelah itu, tanggal 1 Oktober dini hari, diberitakan lewat RRI bahwa jenderal itu telah dibunuh pada peristiwa 1965.



Ada pula jenis koleksi kuno yang lain berupa fosil fauna, yaitu fosil Stegodon, sejenis gajah raksasa yang ditemukan di Ola Bula, Kabupaten Ngada, Flores, pada bulan Desember 1956 oleh Tim Ekspedisi Verhoeven.

Fosil ini dinamakan Stegodon Trigonocephalus Florensis karena ditemukan di Flores. Diperkirakan hewan ini telah hidup di Flores pada periode 400.000 tahun—10.000 tahun Sebelum Masehi (SM). Selain di Ola Bula, fosil juga ditemukan di Mengeruda, Matamenge, dan Boaleza di Ngada. Lokasi penemuan itu dari satu titik ke titik yang lain diperkirakan seluas 10 kilometer.

Namun amat disayangkan, potongan atau pecahan fosil gajah raksasa ini seluruhnya tak dapat disaksikan umum. Karena keterbatasan ruang, potongan fosil gajah itu terpaksa sebagian besar ditaruh berjejalan di dalam peti atau kotak penyimpanan. Puluhan ribu jenis koleksi museum ini sampai sekarang hanya disimpan dalam satu ruangan berukuran sekitar 99 meter persegi.

Fosil manusia raksasa

Pada 11 Juli 1998, Tim Ekspedisi Museum Ledalero yang dipimpin Piet Petu SVD dan Ansel Doredae SVD menemukan fosil tengkorak manusia raksasa (a mythical gigantic skeleton) di Lia Natanio, Ngada, yang terletak 12 kilometer dari lokasi penemuan fosil Stegodon di Ola Bula. Fosil itu kini sedang dipelajari atas dasar hipotesis bahwa besar kemungkinan fosil tengkorak tersebut mempunyai kaitan historis dengan fosil gajah Stegodon.

Theodor Verhoeven SVD pada 1954 juga menemukan fosil manusia purba penghuni goa di Liang Toge, bagian utara Kabupaten Manggarai yang berbatasan dengan Riung, Ngada. Fosil yang ditemukan jenis manusia kerdil. Usia diperkirakan di atas 40 tahun dengan tinggi badan cuma 146 sentimeter. Usia fosil itu diperkirakan 300.000 tahun SM.

Penemuan ini dinilai penting bagi ilmu pengetahuan internasional karena merupakan satu-satunya fosil manusia terlengkap di dunia. Profesor Huizinga dari Universitas Utrecht Belanda dan Prof Koeningswald menyimpulkan bahwa fosil ini berasal dari jenis manusia ras Negrito yang pernah berdiam di Flores. Akan tetapi, karena jenisnya lebih tua, maka disebut Proto Negrito. Artinya manusia yang lebih tua dari Negrito.



Karena ditemukan di Flores, fosil itu kemudian disebut Proto Ngerito Florensis. Namun, fosil manusia Proto Negrito Florensis masih tersimpan di Universitas Utrecht. Dengan demikian, diduga kuat Flores telah dihuni manusia sejak 300.000 tahun SM.

Keunikan lainnya, di museum ini juga tersimpan alat-alat kebudayaan Dongson, berbahan perunggu. Peninggalan itu sebagiannya diperoleh dengan cara ganti rugi dan sebagian melalui penelitian. Alat perunggu yang paling istimewa adalah keris perunggu. Keris ini merupakan satu-satunya yang pernah ditemukan di Indonesia. Keris ini ditemukan tahun 1952 oleh Pater Mommersteeg SVD di daerah Naru, Ngada. Keris itu adalah milik suku Naru, yang tak lagi digunakan sebagai senjata, melainkan untuk upacara keagamaan.

Koleksi langka lainnya, temuan tahun 1954, berupa tiga buah kapak perunggu di Kampung Guru Lama oleh Pater Darius Nggawa SVD dan Pater Frans Nurak SVD. Sayang, kapak yang pernah dimiliki museum itu diketahui telah dijual arkeolog Verhoeven ke Museum Bassel, Swiss.

Nama museum Bikon Blewut diturunkan dari syair adat penciptaan semesta alam atau buana, versi Krowe-Sikka yang berbunyi Saing Gun Saing Nulun/ Saing Bikon Saing Blewut/ Saing Watu Wu’an Nurak/ Saing Tana Puhun Kleruk/ De’ot Reta Wulan Wutu/ Kela Bekong Nian Tana Lero Wulan. Maknanya, sejak zaman purbakala, ketika bumi masih rapuh, ketika batu masih merupakan buah muda, ketika tanah masih seperti kuntum yang baru muncul, Tuhan di angkasa mencipta bumi, matahari, dan bulan.

Dengan demikian, konsep nama Bikon Blewut menunjukkan kepurbaan atau ketuaan dari beberapa jenis koleksi yang dikumpulkan dalam museum ini. Pencetus nama Bikon Blewut adalah Pater Piet Petu SVD, kurator museum periode 1983-1998. Saat ini kuratornya dipegang Pater Ansel Doredae SVD. Oleh Seminari Tinggi St Paulus Ledalero, lembaga ini disebut juga sebagai Museum Misi dan Budaya karena mayoritas jenis koleksi yang dilestarikan merupakan hasil karya etnografis para misionaris SVD.

Keberadaan Museum Bikon Blewut yang menyimpan sejumlah kekayaan budaya Flores ini tak lepas dari peran para misionaris SVD pada awal abad ke-19. Umumnya imam SVD merupakan ahli di bidang sejarah, bahasa, serta kebudayaan (etnolog dan antropolog). Misionaris SVD yang turut mengambil bagian dalam penemuan dan pengumpulan kekayaan budaya Flores antara lain Paul Arndt SVD, Theodor Verhoeven SVD, Guisinde SVD, Jilis Verheijen SVD, dan Paul Schebesta SVD.

Sepintas orang mungkin tak menyangka bahwa di lembaga pendidikan tinggi ini terdapat museum yang kaya akan jenis koleksi dengan nilai sejarah tinggi. Belum lagi letak museum yang jauh di bagian timur, serta tak ada petunjuk yang dipasang di tempat-tempat strategis mengenai keberadaan museum.

“Sebenarnya banyak sekali jenis koleksi yang masih disimpan. Namun sayang, karena kekurangan tempat, tak semua jenis dapat dipamerkan. Seperti fosil gajah yang diperkirakan usianya sudah ribuan tahun hanya sebagian yang dipamerkan,” ungkap Bapak satu anak ini.

Dengan mencermati sekian banyak jenis koleksi yang khususnya merupakan kekayaan kebudayaan Flores, museum ini niscaya merupakan aset nasional yang amat berharga, terutama tentang pluralitas kita.

Lukisan Jenderal Achmad Yani yang sederhana tadi, salah satu bukti saja, bahasa sejarah nasional dan keindonesiaan kita ternyata ikut diolah dan dibina dari museum ini

Lokasi Museum

Seminari  Tinggi St. Paulus, Ledalero
Telp.    :  (0382)  21893      Faks. :  (0382)  21892

Transportasi

Jarak tempuh dari  : 
-  Bandara ke Museum         :  12  Km
-  Pelabuhan  ke Museum    :  11  Meter
-  Terminal  ke  Museum       :  10  Km

Koleksi

Koleksi Museum Bikon Blewut berupa : Benda-benda Budaya Masa Pre-Historis (Neolithicum), Benda-benda Porselin dan Mata Uang Zaman V.O.C,  Alat-alat Musik dan Tarian Tradisional Flores dan NTT, Hasil-hasil Seni Tenun-Ikat (Flores-Sumba-Timor), Benda-benda Hasil Kerajinan Budaya, Benda-benda Koleksi Budaya Masyarakat di luar NTT, Benda-benda Budaya-Inkulturatif (Misi)






PENGADUAN

 

.

PUBLIKASI


KOLOM OPINI

MENURUT ANDA APA HARAPAN DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN YANG PERLU DILAKSANAKAN OLEH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR YANG BARU

[Baca] [Tulis]

.

PERDA - PERDA














 

UMKM NTT

New Page 1

 


 

.

 

 



KANTOR PENGOLAHAN DATA ELEKTRONIK (KPDE)
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Jl. Raya El Tari No. 52 Kupang, Telp. (0380) 824843, (0380) 832567, Faks. (0380) 830814
Copyright © 2005 All rights reserved
 All comment about this site please send mail to e-mail
@2005
www.nttprov.go.id
support by nusacendanabiz.com