|

Museum Seribu Moko

SEBANYAK 80-90 persen dari 355 item yang
dipajang dalam museum ini merupakan hasil koleksi seorang warga keturunan
Cina di Kalabahi, Toby Retika. Ketika dia memutuskan untuk meninggalkan
Kalabahi, seluruh hasil koleksinya itu diserahkan kepada Pemerintah
Kabupaten Alor pada September 2003.
Misalnya, ada perahu naga, benda yang sangat penting dan sakral, yang
menjadi representasi nenek moyang yang datang menggunakan perahu dan
sekaligus tempat pelaksanaan upacara adat. Ada senjata busur dan panah,
tenunan daerah, serta koleksi unggulannya, yakni moko.
Inilah museum, barangkali tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia,
yang satu-satunya berambisi mengoleksi moko dalam jumlah banyak. Sudah ada
satu moko paling besar dan 23 moko kecil. Berharap pada potensi budaya
suku-suku di Alor, museum ini berambisi mengoleksi moko hingga 1.000 atau
lebih. Orang Alor menyebut moko sebenarnya tidak lain untuk menamai nekara
perunggu pada umumnya. Di museum ini satu-satunya moko yang paling besar
tadi malah disebut moko nekara, sedangkan moko-moko kecil lainnya diberi
nama berdasarkan ornamen atau hiasannya. Moko nekara merupakan salah satu
hasil kebudayaan perundagian (zaman perunggu) yang digunakan masyarakat
sebagai alat upacara. Nekara bertipe Heger I ini ditemukan oleh Simon J
Oil Balol di dalam tanah di Desa Kokar, Alor Barat Laut, berdasarkan
petunjuk mimpi. Jeskiel Nanggi, Kepala Museum Seribu Moko, mengatakan,
berdasarkan petunjuk mimpi itu, saat bangun keesokan harinya, tepatnya 20
Agustus 1972, Simon menggali di tempat yang telah dibayangkan dalam mimpi.
"Ternyata mereka menemukan moko nekara ini, lalu diangkat dengan sebuah
upacara adat," katanya.

Berat nekara itu belum pernah ditimbang. Dari fisiknya, moko ini didesain
menyerupai gendang atau tambur menurut sebutan masyarakat Alor. Bagian
atasnya datar atau rata, di tengah-tengahnya gambar bintang, dan di tepi
diberi pemanis berupa empat patung kodok (tetapi satu di antaranya telah
hilang). Di bagian badan terdapat empat telinga, yakni dua di bagian kanan
dan dua di kiri. Jeskiel tidak bisa menjelaskan makna moko dalam desain
seperti itu. Moko nekara ini digunakan untuk pesta-pesta adat dan
dijadikan semacam rebana atau induk gendang. Setelah penemuan di Kokar
tadi, sekitar tahun 1976, nekara dibawa ke Kupang untuk dipajang di Museum
Negeri Kupang. Akan tetapi, ketika Pemerintah Kabupaten Alor berniat
membangun museum khusus menempatkan moko sebagai item unggulannya, nekara
dibawa pulang ke Kalabahi per Februari 2004.

Selain moko nekara yang ditempatkan di tengah-tengah museum, di sekitarnya
dipajang pula secara berderet 23 moko ukuran kecil, setinggi tiga atau
empat jengkal orang dewasa. Misalnya, ada moko "pung lima anak panah" yang
biasanya digunakan sebagai mas kawin dalam budaya Pantar.
Ada moko jawa telinga utuh cap bintang dan cap satu bunga, ada moko
belektaha cap bengkarung, ada moko malayfana palili dari Alor Timur, moko
makassar bunga kemiri tangan panjang, moko aimala kumis besar. Sisanya,
antara lain, moko cap naga, bulan, paria, dan cap rupa-rupa simbol
lainnya.
Hampir pasti tidak ada masyarakat adat di negeri ini yang mengoleksi moko
dalam jumlah banyak seperti suku-suku di Alor. Dalam sejarah peradaban
suku-suku di sini, moko digunakan sebagai belis, atau mahar, atau mas
kawin. Hingga kini, adat menjadikan moko sebagai mahar masih terus
berlangsung.
Dalam masyarakat adat Pantar Barat, misalnya, kata Jeskiel, kalau yang
meminang adalah anak raja atau keturunan raja, darah biru, tokoh terhormat
di masyarakat, dan gadis yang dipinang pun demikian, mas kawinnya berupa
belasan moko. "Moko adalah simbol kehormatan dan kesetiaan cinta," tutur
Jeskiel.
SAMPAI saat ini masih banyak suku yang menyimpang moko itu untuk
kepentingan adat perkawinan. Namun, karena sudah banyak juga yang dibawa
ke luar dari Alor oleh para pemburu barang antik, terutama ke Denpasar dan
luar negeri, diperkirakan hanya suku-suku tertentu yang memiliki.
Lima wilayah potensial yang menyimpan moko ialah Alor Timur, Alor Selatan,
Alor Barat Daya, Alor Barat Laut, dan Pantar. Klan atau suku yang masih
menetapkan mas kawin dengan moko misalnya Suku Darang (Raja), Tawaka,
Kalondama, Kawali, dan Balomasali. Tinggi rendahnya status sosial dinilai
oleh banyaknya moko yang disanggupi saat membayar mas kawin. Seorang anak
keturunan raja ketika ditetapkan membayar, misalnya, 10 moko, tetapi
kenyataannya menyanggupi lima buah dan selebihnya disubstitusikan dengan
uang akan berbeda penilaiannya. Kata Jeskiel, moko memang diwajibkan
sebagai mas kawin. Namun, kini sudah ada keputusan para tetua adat di
Alor, paling tinggi hanya dua moko yang diwajibkan untuk dipenuhi seorang
pria sebagai mas kawin. Tidak boleh kurang, boleh lebih, tetapi tidak
diwajibkan untuk lebih dari dua moko. Sebenarnya, keputusan itu dapat
menguntungkan Museum Seribu Moko jika gesit memburunya ke berbagai
wilayah. Hal itu agar warga yang menyimpan lebih dari dua atau tiga moko
dapat menyerahkan kelebihannya itu kepada museum moko karena dikhawatirkan
akan diselundupkan ke luar daerah. Moko penting karena merefleksikan
jalinan asmara, ikatan cinta antara seorang pemuda dan gadis dari berbagai
suku di Alor. Jika ingin mendalami adat perkawinan Alor, saksikan moko di
museum.

|