Timor dalam
Perspektif Sejarah
Nusa Tenggara Timor berada di Timur gugusan zamrud khatulistiwa kepulauan
Indonesia. Berdirinya Timor berawal sebelum kedatangan Portugis. Konon di
Kupang ada sebuah kapal bangsa asing yang telah mengunjungi Kupang. Awal
kapal asing ini turun ke darat untuk berkenalan dengan penguasa Pribumi,
yang tinggal tidak jauh dari muara sungai. Nahkoda dan awak kapal asing ini
disambut dengan ramah oleh penguasa Pribumi.
Sambutan ramah yang diberikan membuat rombongan tersebut terkesan. Mereka
kemudian menghadiahkan sebuah kendi yang berukir indah. Nahkoda kapal
berkata kepada penduduk pribumi sambil berkata “Cupa”. Penguasa pribumi
menerima hadiah yang diterima tersebut dengan gembira sambil menirukan
ucapan nahkoda kapal asing tersebut. Walhasil mulai dari waktu itulah sang
penguasa pribumi tanah Helong yang menerima dan menyimpan Cupa menamainya
Nai Cupa, dari ucapan ini kemudian berubah menjadi Kopa, Kopan, kemudian
Kupang.
Sebenarnya masih ada beberapa versi yang menceritakan awal mula bersirinya
pulau ini, namun cerita ini dianggap paling mendekati kebenaran karena
beberapa alasan. Pertama, kata Kopa atau Kopan tidak pernah ada dalam bahasa
Helong maupun bahasa Dawan dimana para penguasa negeri berada waktu itu. Nai
Kupan ( merupakan ucapan Dawan). Sedangkan Lai Kopan merupakan ucapan orang
Helong.
Berdasarkan penelitian bahasa, ternyata Cupa berasal dari bahasa Spanyol dan
Inggris Kuno, Cupa atau Cuppe, yang artinya kendi berukir indah yang
biasanya memang dijadikan sebagai cindera mata. Sehingga kemungkinan besar
Nahkoda dan rombongan tersebut berasal dari Spanyol. Namun perlu menjadi
catatan bahwa pada masa penguasaan Portugis maupun Belanda, Kupan ditulis
dan diucapkan dalam lima versi yaitu Cupao, Coupan, Cupam, Kopan, dan
Koepang.
Dari beberapa catatan sejarah menuliskan bahwa pulau Timor sudah dikenal
sejak abad ketujuh, hal ini disebabkan karena kayu cendananya yang
berkualitas baik. Dikisahkan, bahwa waktu itu banyak sekali pedagang dari
Malaka, Gujarat, Jawa dan Makasar, serta pedagang dari negri Cina telah
melakukan kontak dagang secara langsung dengan raja-raja Timor, yang
mengawasi penebangan kayu cendana di daerah pedalaman.
Selanjutnya dokumen Cina tahun l5 yang ditulis oleh Chau Ju Kua, menuliskan
bahwa pulau Timor biasa disebut dengan nama Tiwu sangat kaya dengan
kayu cendana. Pada waktu kekuasaan kerajaan Hindu-Jawa di Kediri telah mampu
menjangkau Raja-raja Timor dan membayar upeti mereka dengan kayu cendana
kepada raja di Kediri. Begitu juga dalam buku Negarakertagama, tahun l365
mencatat bahwa Timor yang terkenal dengan hasil cendananya termasuk dalam
wilayah kekuasaan Majapahit.
Dokumen Cina yang lain, ditulis oleh Hsing-cha Shenglan, menyebutkan bahwa
di Kih-ri Timun (yakni pulau Timor) waktu itu terdapat dua belas tempat
penampungan kayu cendana, disebut dengan twelve ports ormercantile
establisment, each under a chief (dua belas pelabuhan/kelompok kegiatan
perdagangan, yang masing-masing dibawah pengawasan seorang pemimpin). Adapun
duabelas tempat tersebut antara lain adalah: Kupang, Naikliu, Oekusi,
Atapupu, Betun, Boking, Kolbano, Bitan, Elo Abi, Bijeli, Oepoli, dan
Nefokoko. Dari ke tempat inilah pedagang Cina dan Jawa mengangkut kayu
cendana ke Kediri, Sumatra (Sriwijaya), jazirah Melayu (Malaka), dan Asia
lainnya. Sejak itu Timor dikenal dengan nama ‘Timor Pulau Cendana’. Sistem
perdagangan yang digunakan-pun masih menggunakan sistem barter, dengan
barang pengganti seperti tembikar, manik, Sutera, barang-barang atau
peralatan dari besi yakni sebangsa kapak, parang, pisau dan sebagainya.
Pada tahun l5l0 Portugis berhasil merebut Goa di pantai Barat India Tengah,
dan pada tahun l5ll Malaka menjadi pusat perdagangan Asia Tenggara berhasil
direbut pula. Untuk misi perdagangan dan agama, maka Portugis mulai
melakukan ekspansi ke arah Timur, yakni Maluku yang termasyur karena
rempah-rempahnya, dan Solor (Flores) yang termasyur dengan kayu Cendananya.
Tahun l5ll armada Ferdinand Magellan (dua kapal) singgah di Alor dan Timor (Kupang).
Dalam penyebrangan ke selat Pukuafu, kedua kapal ini tertimpa badai, salah
satu kapal karam dan hancur. Salah satu jangkar raksasa kapal ini hingga
kini masih ada di pantai Rote. Satu lainnya berhasil lolos dari amukan ombak
melanjutkan perjalanan ke Sabu, kemudian ke Tanjung Harapan dan kembali ke
Spanyol. Karena lolos dari amukan gelombang di Pantai Rote itu, maka kapal
tersebut dikenal dengan nama kapal ‘Victory’.
Pada waktu VOC dibubarkan pada th l799, segala hak dan kewajiban Indonesia
diambil alih oleh pemerintah Belanda. Peralihan ini tidak membawa perubahan
apapun , karena pada waktu itu Balanda menghadapi perang yang dilancarkan
oleh negara tetangga. Belanda waktu itu masih dikuasai oleh pemerintah
boneka dari kekaisaran Perancis dibawah Napoleon. Keadaan ini dimanfaatkan
Inggris untuk memperluas jajahannya dengan merebut jajahan Belanda.
Armada Inggrispun mengganggu semua daerah kekuasaan Belanda di Indonesia,
sehingga pada tahun l799 hampir seluruh wilayah Indonesia (kecuali Jawa,
Palembang, Banjarmasin dan Timor) dalam kekuasaan Inggris. Dua kapal Inggris
memasuki pelabuhan Kupang pada l0 Juni l797, namun berhasil dipukul mundur
oleh Greving yang mengarahkan pada mardijkers. Kira-kira tahun 1800,
Komisaris Fiskal bernama Doser diutus dari Makasar ke Kupang untuk
menyelidiki keadaan keuangan VOC. Akan tetapi ketika Doser sampai di Kupang
ia segera diperintahkan untuk kembali dan tugasnya diambil alih oleh pejabat
lain yang bernama Lofsteth. Namun tahun tak lama Lofsteth meninggal. Posisi
ini kemudian digantikan oleh Hazart, seorang Belanda yang lahir di Kupang
tahun 1773. Dibawah kepemimpinannya Belanda berhasil membatasi wilayah gerak
Portugis sampai awal abad XIX. Penguasaan ini akhirnya berdampak terhadap
kehidupan agama dan kultural di Timor. Kupang dan sekitarnya (Pulau Timor
bagian barat) lebih banyak memeluk agama Kristen dengan bahasa dan dialek
yang sangat kental dengan pengaruh bahasa Belanda. Contoh kata ‘tidak’ dalam
bahasa Kupang adalah ‘sonde’ dari kata ‘sonder’ dalam bahasa Belanda.
Semakin ke arah Timor menuju Attambua (Perbatasan Timor leste) mayoritas
penduduk memeluk agama Katholik dengan pengaruh bahasa dari Portugis. Namun
di daerah pesisir, dimana dahulu banyak bermukim pedagang Islam dari
Gujarat, Pakistan dan sekitarnya masih banyak memeluk agama Islam.
Islam pesisir ini memiliki basis religio politik santri yang masih melekat
kuat dalam politik aliran, mereka kebanyakan terdominasi dalam faham ahlu
sunnah wal jamaah yang bersumber dari aliran Nahdatul Ulama (NU). Pemahaman
mereka terhadap sumber-sumber simbolik yang berakar dari NU itu menimbulkan
pluralitas kaum di kalangan Nahdliyin. Karena ternyata tak seluruhnya
intensif menggumuli gerakan sufisme. Praxis serta pandangan yang mereka
pahami tentang Islam memang masih belum begitu luas. Dalam kasus ini
trikotomi Geertz yang membuat trikotomi Islam menjadi santri bagi mereka
yang taat beragama, varian abangan dengan animisme dan varian priyayi yang
dianggap kental dengan Hinduismenya yang nilainya sebagai penciri organisasi
yang kurang taat beragama tidak berlaku. Namun Islam masih tetap bisa
berekspresi karena tingkat toleransi antara masyarakat yang sangat tinggi.
|