|
K e a d a a n
T a n a h.
Apabila dilihat dari topografinya, maka
wilayah NTT dapat dibagi atas 5 bagian besar, yaitu :
- Agak berombak dengan kemiringan 3-16 %.
- Agak bergelombang dengan kemiringan 17-26 %.
- Bergelombang dengan kemiringan 27-50 %.
- Berbukuti-bukit bergunung dengan kemiringan lebih besar
dari 50 %.
- Dataran banjir dengan kemiringan 0-30 %.

Peta Topografi NTT (klik
disini untuk diperbesar)
Keadaan topografi demikian mempunyai pengaruh pula
terhadap pola kehidupan penduduk, antara lain pola pemukiman
digunung-gunung, sehingga terdapat variasi adat dan tipologi kehidupan yang
sangat besar antara suatu daerah dengan daerah lainnya.
Mikroba Tanah Sediakan
Unsur Hara untuk Tanaman Lahan Kering
di NTT
Kekayaan mikroba jenis mikoriza dan
bakteri pelarut fosfat yang berperan dalam proses daur unsur hara dalam
tanah mampu menyediakan unsur hara bagi tanaman lahan kering di provinsi
Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Keadaan kering di NTT menyimpan berbagai
rahasia yang dapat dimanfaatkan. Salah satu potensi tersebut adalah kekayaan
mikroba tanah yang berperan dalam proses daur unsur hara dalam tanah yang
mampu hidup dalam kondisi kering," kata Prof. Dr. Samuel Pakan, di Kupang,
Sabtu.
Ketika berbicara dalam lokakarya penanggulangan rawan pangan di Kupang,
dosen pada Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) itu
mengatakan, mikroba-mikroba tersebut dalam perannya bagi tanaman dapat
berbentuk hubungan simbiosis, asosiasi maupun hidup bebas.
Selain menyediakan unsur hara, mikroba-mikroba itu juga terbukti mampu
menghasilkan beberapa jenis hormon tumbuh tanaman, mendegradasi residu
beberapa jenis pestisida, mengendalikan beberapa jenis hama dan patogen
penyakit yang berasal dari tanah.
Hasil kajian Adu Taek dkk (2007-2008) membuktikan bahwa beberapa tanaman
umur panjang yang tumbuh di lahan-lahan kering di Timor sangat terbantu oleh
adanya peran kedua kelompok mikroba itu.
Kedua kelompok mikroba tersebut, kata dia, telah berhasil diisolasi dan
dimanfaatkan untuk beberapa tanaman pangan.
Artinya ialah pemanfaatan mikroba-mikroba tanah tersebut secara mencolok
terbukti mampu meningkatkan produksi tanaman jagung, sorghun dan beberapa
jenis kacang-kacangan, katanya.
Dia mengatakan dewasa ini sementara dikembangkan propagul dan metode
enkapsulasi agar isolat-isolat itu dapat dimanfaatkan secara komersial.
Produk yang dihasilkan nantinya diharapkan mampu menaikkan tingkat kesuburan
tanah di lahan-lahan kering yang ada di provinsi NTT.
Provinsi NTT merupakan provinsi kepulauan yang memiliki 566 pulau dengan
luas daratan mencapai 47.349 kilometer persegi. Dari luas daratan tersebut
tercatat 96,74 persen merupakan lahan kering, sedangkan sisanya 3,26 persen
merupakan lahan basah.
Itu berhubungan erat dengan musim hujan yang cukup pendek yaitu 3-4 bulan,
yang sering disertai distribusi yang kurang merata. Curah hujan terendah
hanya mencapai 1059Mm dengan jumlah hari hujan hanya 65 hari.
Dengan demikian, NTT dikenal sebagai daerah semu-arid, selain itu, kondisi
topografi NTT yang umumnya berbukit dengan luas lahan terbesar adalah yang
memiliki kemiringan kurang lebih 40 persen seperti di Kabupaten Ende, yang
mencapai 74,17 persen, di Alor dan Manggarai, masing-masing sebesar 64,25
persen dan 50,10 persen.
Itu berarti ketersediaan lahan yang landai untuk usaha pertanian lahan basah
sangat terbatas sehingga pertanian lahan kering menjadi sangat dominan di
NTT.
Prof. Dr. Samuel Pakan menambahkan kondisi iklim dan topografi seperti itu
mengakibatkan usaha pertanian lahan kering khususnya untuk tanaman pangan
menghadapi tantangan yang cukup besar.
Dua ancaman yang sering menyebabkan gagal panen adalah kekeringan dan
longsor. Disamping itu, curah hujan yang rendah juga menyebabkan proses
pelapukan yang lamban sehingga berdampak pada tingkat kesuburan tanah pada
lahan pertanian yang diusahakan setiap tahun. Tanpa pemberian pupuk kondisi
tersebut akan cepat mengalami degradasi, katanya.
Karena itu, pemanfaatan mikroba tanah menjadi salah satu pilihan bagi daerah
tersebut selain alternatif lain untuk mengembangkan tanaman pangan di daerah
yang kering dan gersang itu.


|